parent.window.onunload=goodbye;

Tuesday, October 12, 2010

Suara Jiwa

Saya Siswa SMA PGRI 4 Denpsar.Kemuakkan sudah melingkupi seluruh sendi. Sandiwara para petinggi negeri semakin menjadi, mempertontonkan kemunafikan dan kebohongan yang tiada pernah berhenti. Hari ini Sri Mulyani dan Budiyono, besoknya Gayus, besoknya lagi Susno Duadji, lusa masih seribu lagi yang mengantri.Mungkinkah Bangsa ini terlahi dari kutukan Hyang Whidhi?.Sejarah kiranya bisa menjadi sebuah renungan, betapi intrik politik bukan hanya terjadi hari ini. Kedengkian dan kemurkaan Ken Arok menjadi bukti, kebejatan moral Malim Kundang , nistanya akhlak Sangkuring dan Dayang Sumbi (meskipun hanya sebuah dongeng) adalah sebuah cerita panjang yang menjadi warna,betapa sejak dulu hingga kini kebobrokan moral dan tragedi tak pernah berhenti melingkupi negeri.

Sandiwara bukan hanya sekedar tontonan belaka yang bisa dinikmati sambil tiduran di depan TV, menggandeng pacar di bioskop atau sambil tertawa ngakak di depan panggung. Kini sandiwara bisa dinikmati secara gratis, bahkan dilakukan secara “live” dengan pelakon tidak tanggung-tanggung. Para pemimpin bangsa dengan segepok gelar dan pangkat berderet di pundak dan dada. Dengan bintang-bintang besar berderet yang dicomot dari langit tak bertepi. Tanpa bayar, tanpa honor (mungkinkah?!), tanpa latihan (mungkinkah?!) dan tanpa skenario (mungkinkah?!). Lakon hebat yang sangat panjang hingga membuat seluruh bayi negeri bingung untuk mengerti dan memahami. Kapankah cerita kan berakhir? Happy ending atau sad ending kah? Siapa yang akhirnya akan terjungkal mati?!

Hidup di negeri seribu mimpi memang luarbiasa aneh. Ulama, pendeta tubuh bagai tak pernah berhenti seiring semakin banyaknya maling, teroris dan suburnya korupsi. Tuhan sebenarnya sudah berlaku adil. Keseimbangan selalu Ia jaga demi ketenteraman bumi. Hanya manusianya yang tak pernah mau mengerti, betapa mereka begitu disayang dan dicintai. Azab dan kesengsaraan mungkin menjadi sebuah solusi, untuk mengembalikan negeri ini keluar dari kutukan abadi.

Tak cukupkah banjir? Tak cukupkah sampah meledak? Tak cukupkah kebakaran di sana-sini? Tak cukupkah tsunami? Atau mungkin kebebalan ini harus diakhiri dengan azab yang menghabisi ?

0 comments:

Post a Comment